Asal Mula Masjid Tiban Probolinggo, Diyakini Petilasan Syeh Maulana Ishaq

by -
Masjid Tiban Babussalam, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Probolinggo, Jatim.

PROBOLINGGO, (urgensi.com) – Ada yang menarik saat kita melintas di Jalan Raya Soekarno Hatta, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur. Ya, di sebelah utara jalan jurusan Probolinggo – Situbondo dan rel kereta api ini, terdapat masjid bernama Masjid Tiban Babussalam.

Sekilas, bangunan masjid yang berada di dekat selat laut Jawa itu, laiknya masjid pada umumnya, yakni terdapat kubah setengah lingkaran cukup besar. Namun, ada yang unik pada bangunan di bagian barat. Yakni, terdapat bangunan dengan atap berbentuk kerucut menjulang. Mirip joglo atau bangunan rumah jawa kuno. Di dalam bangunan itu, terdapat 4 balok kayu sebagai penyangga. Selain itu, bangunan tersebut juga dilengkapi tempat pengimaman.

Konon, masjid ini diyakini muncul seara tiba-tiba. Karena itulah disebut masjid tiban. Tiban, berasal dari kata bahasa Jawa “Ketiban” yang berarti jatuh dari langit. Ada juga yang mengartikan, Tiban itu tiba-tiba muncul dari dalam tanah.

Beredar pula di kalangan masyarakat, kalau kata tiban itu berasal dari kata “Titiban”, yakni masjid tersebut dititipkan oleh pendirinya ke masyarakat sekitar. Alasannya, pendiri akan melakukan siar agama Islam ke daerah atau wilayah lain. Namun, hingga kini, belum terungkap nama orang yang menitipkan dan orang yang dititipi.

Hingga kini, belum diketahui siapa pendiri dan siapa yang membangun Masjid Tiban. Namun, masyarakat sekitar mempercayai, jika masjid Tiban merupakan petilasan Syeh Maulana Ishaq, seorang wali asal Negeri Campa (sekarang Vietnam) yang tinggal di Jawa, yang menyiarkan agama Islam di Jawa bagian timur. Maulana Ishaq hanya singgah beberapa hari dalam perjalanan ke Blambangan, Banyuwangi. Perjalanan religinya itu, untuk menyembuhkan Dewi Sekardadu, Putri Raja Blambangan yang sakit menahun.

Tapi, yang mendirikan masjid Tiban, bukanlah Syeh Maulana Ishaq. Tetapi keturunannya. Konon ceritanya, yang mendirikan masjid Tiban di Kota Probolinggo itu, adalah santri Sunan Giri, setelah mendapat wasiat dari dari ayahnya (Syeh Maulana Ishaq) agar siar Islam ke wilayah timur, termasuk Probolinggo.

Di area Masjid Tiban, ada batu serukuran tubuh manusia. Batu tidak rata yang salah satu permukaannya terdapat lubang bundar cukup besar tersebut, dipercaya menjadi tempat duduk Syeh Maulana Ishaq saat bermunajat kepada Allah SWT. Selain itu, di dekat masjid, ada tanaman kemuning. Namun, saat ini, sudah mengering dan mati.

“Sepertinya, batu dan pohon kemuning itu sebagai tanda kalau Syeh Maulana Ishaq pernah singgah. Nah, pada tanda itulah, Sunan Giri diminta tinggal dan membangun surau. Kemungkinan, wasiat itu, Sunan Giri dapatkan saat ia belajar mengaji ke ayahnya (Syeh Maulana Ishaq), kata Beny Hidayat (48), warga setempat yang kesehariannya berada di Masjid Tiban

Pesan tersebut, oleh Sunan Giri dilaksanakan dengan mengutus 2 muridnya. Kedua muridnya yang masih kakak beradik itulah, yang membawa bahan bangunan berupa kayu dan sarana kelengkapan lainnya ke Probolinggo.

“Namun, tidak ada yang tahu, kedua santri itu menggunakan sarana apa saat membawa bahan bangunan masjid. Bisa saja, diangkut dengan perahu dari Surabaya, atau kayu yang akan dibuat masjid dinaiki langsung, dibawa melalui laut. Kalau perjalanan darat, tidak mungkin,” kata Beny.

Jika dilihat dari jenis kayunya, lanjut Beny, merupakan jati asal Bojonegoro dan batu paras putih yang digunakan untuk lapisan tembok.

“Mereka berdua itulah yang mendirikan atau membangun masjid Tiban, termasuk 4 tiang penyangga bangunan (joglo). Besar kemungkinan, 4 balok kayu jati penyangga bangunan yang hingga saat ini berdiri kokoh itu, didirikan dengan kekuatan supra natural. Karena tidak dibantu alat sama sekali,” papar Beny.

Pria yang memiliki kekuatan supra natural ini mengatakan, hingga pembangunan surau itu rampung, warga setempat tidak ada yang tahu. Selain belum ada orang, lanjut Beny, di lokasi pendirian masjid dipenuhi tanaman rimbun.

Di bangunan surau atau masjid dekat laut itulah, kakak beradik tersebut menyiarkan agama. Dan mereka yang menjadi santrinya, tidak tahu jika di pantai utara selat Jawa, ada masjid. “Jadi, mereka menyebut bangunan itu tiban. Tiba-tiba jadi dan tiba-tiba ada. Zaman dulu, tidak disebut masjid, melainkan surau,” pungkas Beny.

Demikian asal-usul Masjid Tiban “Babussalam”, yang hanya cerita dari orang-perorangan. Sementara hingga tulisan ini diunggah, belum ada sejarawan yang meneliti. Maka, tidak ada yang menjamin benar tidaknya cerita itu. Wallahu a’lam.

(agus p)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *