Derita Kanker Tulang, Remaja di Kota Probolinggo Butuh Uluran Tangan

by -
Henri Prasetyo (18) yang hanya bisa terbaring di kasur, saat ditunggi ibunya. (FOTO: MO)

PROBOLINGGO, urgensi.com – Nasib Henri Prasetyo (18) tidak seperti remaja lainnya yang bisa kuliah atau bekerja setelah lulus SMA. Anak kedua dari 4 bersaudara tersebut, kini terbaring di dipan kamarnya. Remaja yang biasa disapa Pras itu, divonis kanker tulang.

Henri Prasetyo, kini tidak bisa kemana-mana, bahkan untuk bergerak saja sulit terutama kaki kirinya. Sebab, kaki kiri bagian lutut hingga betis bengkak, yang besarnya seperti kepala bayi baru lahir. Belum diketahui pasti, penyakit yang menjangkit di kaki Pras.

Diah Ernawati (44) orang tua perempuan Pras menyebut, kalau putra keduanya diserang tumor. Kabar tersebut didapat dari salah seorang dokter yang pernah dikunjungi saat memeriksakan Pras bersama Ben Ban Nardiyanto (49). Sementara RSUD dr Mohamad Saleh Kota setempat, menvonis kanker tulang.

Setelah dipastikan anaknya terjangkit tumor oleh dokter, Diah tidak langsung memeriksakan putranya ke RSUD, alasannya keterbatasan biaya. Sementara Ben Ben suaminya, sudah lama tidak bekerja setelah resend atau berhenti dari sebuah bank.

“Suami, tidak bekerja. Dulu kerja di bank, tapi sudah reesend. Katanya, tidak kerasan,” jelas Diah, Senin (29/7) siang di rumahnya.

Pras, kemudian dibawa ke pengobatan alternatif di Paiton, Kabupaten Probolinggo. Saat proses pengobatan tradisional berjalan, salah satu rekan Diah menyarankan, Pras dibawa ke RSUD. Saran tersebut diikuti, dan Pras kemudian dibawa ke RSUD.

“Teman saya itu minta bantuan ke pak Wali. Anak saya dijemput ambulan ke sini. Gratis,” tandasnya.

Perempuan yang tinggal di Jalan Wijaya Kusuma, Gang Baru, Blok B Nomor 05, RT 05 RW 1, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan ini mengaku, anaknya hanya 2 hari dirawat di RSUD. Ia pulang paksa, karena Pras menolak diamputasi.

“Katanya, penyakit anak saya kanker tulang. Harus diamputasi. Anak saya menolak dan minta pulang,” katanya.

Nah sejak itu, benjolan dikaki kiri Pras, bertambah besar. Kondisi mental Pras, lanjut Diah memburuk, setelah mendengar vonis kanker tulang dan harus diamputasi. Karena benjolan di kakinya semakin membesar, Pras kembali lagi berobat ke pengobatan alternatif di Paiton.

“Minggu lalu ke RSUD. Sejak pulang paksa, benjolan yang awalnya memang besar, bertambah besar. Ya, sekarang kondisinya seperti itu,” tambahnya.

Disebutkan, selama 2 hari di RSUD, Pras diinfus dan tranfusi darah. Kini, benjolannya bertambah besar. Dimungkinkan karena Pras ketakutan dengan vonis rumah sakit, sehingga sebelum dibawa ke RSUD, benjlan di kaki kiri anaknya yang sudah besar, bertambah besar.

“Memang, sebelum dibawa ke rumah sakit, benjolan anak saya besar. Tapi tidak sebesar sekarang. Mungkin anak saya trauma dengan vonis rumah sakit,” lanjutnya.

Kepada sejumlah wartawan, Diah mengatakan, selama belum memiliki biaya, anak keduanya akan menjalani pengobatan alternatif. Perempuan yang memiliki 4 anak ini berterus terang, tidak mampu membiayai pengobatan Pras di rumah sakit.

“Kami bukan menolak dirawat di rumah sakit. Uang darimana saya. Tapi, sepertinya anak saya tidak mau diamputasi kakinya,” terang Diah, saat menunggui anaknya.

Ia kemudian menceritakan, asal mula penyakit yang diderita remaja yang lulus dari SMKN 2 tahun ini (2019). Saat bangun tidur, Pras merasakan kakinya sakit dan setelah dilihat muncul benjolan kecil. Karena setiap hari sakit dan gatal, ibunya member obat. Namun, benjolan kecil tersebut tidak menghilang.

“Kami lalu ke pengobatan alternatif di Paiton. Tidak sembuh, tapi benjolannya berhenti atau tidak tambah besar,” ungkapnya.

Diah menyebut, saat sakit putranya tetap masuk sekolah, bahkan ikut Ujian Nasional (UN) hingga lulus. Menurutnya, Pras sekolah di SMKN 2 jurusan bangunan dan berkeinginan kuliah di jurusan teknik. Namun, keinginannya kandas, setelah tumor menyerang kakinya.

“Rencananya mau kuliah. Ya, mau gimana lagi. Ini nasib anak saya,” pungkas Diah berserah diri.

Sementara itu, Prasetyo mengaku, kalau kakinya terkadang sakit seperti ditusuk-tusuk. Terutama saat suhu dingin dan malam hari. Saat ditanya soal makan, Ia menjawab tidak ada masalah.

“Saya gak kuat, soalnya sakit. Terutama malam hari. Kalau makan, saya biasa. Kayak tidak sakit. Saya tidak bisa berdiri,” ujarnya singkat. (mo/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *