Diduga Ilegal, Pabrik di Desa Kedungsugo Olah Kertas Karton dari Limbah Diduga B3

by -
Kertas yang sebelumnya diolah dari limbah kertas alias ledok ini, selanjutnya akan dicetak menjadi kertas karton yang biasanya dipakai tempat makanan siap saji. (FOTO: IRW)

SIDOARJO, urgensi.com – Home industri pengolahan limbah kertas, atau yang lebih dikenal dengan sebutan ledok, yang berada di Desa Kedungsugo, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga tidak mengantongi ijin.

Sudah begitu, bahan baku yang dibuat untuk membuat kertas karton tersebut, terbuat dari limbah diduga Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari salah satu pabrik ternama di Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo.

Pantauan di lokasi, Selasa (15/1/2019) siang, home industri tersebut terletak di ujung simpang 3 Jalan Desa Kedungsugo. Di lokasi ini, ada bangunan gudang tua bekas penggilingan padi, yang kini beralih fungsi menjadi tempat pengolahan kertas tersebut.

Di lokasi pabrik, tampak sejulah karyawan laki-laki paruh baya sedang beraktivitas menjemur ratusan lembar kertas barang jadi, hasil dari produksi pengolahan limbah. Lembaran kertas ini hendak dicetak menjadi lembaran-lembaran karton yang siap didistribusikan.

Jun, warga setempat membenarkan, jika bahan baku kertas karton yang diolah home industri tersebut, merupakan sisa produksi dari pabrik kertas ternama di Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo. Menurutnya, pabrik kertas besar yang ada di kecamatan Prambon itu, bisa menghasilkan ratusan ton limbah, setiap harinya.

“Yang jadi pertanyaan, kertas karton tersebut, apakah tidak membahayakan bagi pengguna, disaat karton tersebut dipakai untuk tempat makanan siap saji. Yang jelas, bahan baku karton tersebut merupakan limbah diduga terkategori B3,” jelas Jun diiyakan Hari, tetangganya, Selasa (15/1/2019).

Sementara, pemilik pabrik saat dikonfirmasi via telephon selulernya terkait perijinan pengolahan limbah, pihaknya mengaku masih di luar kota dan tidak bisa ditemui. Tak puas dengan jawaban owner pabrik, wartawan ini kembali menghubungi ponselnya.

“Mas, nggak usah neko-neko lah. Nggak usah basa-basi. Kalau minta untuk kopi, udahlah minta di anak-anak yang kerja di situ,” jawab pemilik via ponselnya.

Penasaran dengan jawaban itu, selidik punya selidik, ternyata bahan baku berupa ledok kertas tersebut, ditumpuk di samping pabrik dengan bau yang sangat menyengat.

Tak hanya itu, di saluran air pembuangan pabrik pun terdapat bekas pembuangan limbah yang dialirkan ke sungai desa. Sayangnya, siang itu mesin produksi pabrik sedang dimatikan, sehingga proses pembuangannya pun tidak ada. (irw/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *