FPSR Temui Bantaran Sungai Diurug Limbah B3 dan Jadi Lahan Parkir PT Prima Beton

by -
Lahan parkir sepeda motor di PT Prima Beton yang awalnya bantaran sungai, lalu diurug menggunakan limbah slag besi sisa hasil produksinya. Kondisi ini seperti diungkap LSM FPSR Gresik, berdasarkan temuannya saat mendampingi demo belasan Satpam yang di-PHK sepihak.

GRESIK, urgensi.com – Rupanya, lahan parkir sepeda motor untuk karyawan di PT Prima Beton, diduga berasal dari bantaran sungai yang merupakan lahan milik pemerintah. Ini dilihat dari sempadan sungai yang berada di pinggir Jalan Raya Wringinanom KM 32,8 Dusun Panggang, Desa Lebanisuko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.

Mirisnya lagi, bantaran sungai itu, oleh pabrik baja ini, diurug menggunakan limbah slag besi, sisa hasil produksinya. Kemudian, bantaran sungai tersebut beralih fungsi menjadi lahan parkir sepeda motor milik karyawannya. Padahal, limbah slag besi terkategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Temuan ini, seperti diungkapkan Aris Gunawan, Ketua LSM Front Pembela Suara Rakyat (FPSR), saat mendampingi belasan Satpam PT Prima Beton yang berunjukrasa gara-gara di-PHK secara sepihak, Kamis (14/2/2019).

Aris mengatakan, alih fungsi bantaran sungai menjadi lahan parkir di PT Prima Beton ini, merupakan prilaku sewenang-wenang yang dilakukan pihak pabrik baja tersebut. Disamping merupakan lahan milik pemerintah, urugan yang menggunakan limbah diduga B3 ini juga bakal mengancam ekosistem sungai dan kelestarian lingkungan sekitarnya.

“Kita sudah ingatkan berulang kali terkait limbah yang dibuang ngawur oleh PT Prima Beton. Tapi, kalau lahan parkir pabrik baja ini merupakan urugan menggunakan limbah slag besi, kita baru tahu. Apalagi, volume yang dipakai untuk mengurug menjadi lahan parkir ini, cukup besar,” papar Aris.

Selain diurug dengan slag besi, lanjut Aris, bangunan permanen lahan parkir pabrik, memakan sempadan sungai sekitar seperempat lebar sungai. Sehingga, kalau ditarik lurus dari barat, sampai di depan pagar pabrik baja, lebar sungai ini jadi menyempit.

“Mungkin, disinilah penyebab banjir yang selama ini terjadi di depan Pabrik Keramik Platinum, dan akses masuk menuju Dusun Panggang, yang tiap kali hujan tinggi akses masuk menuju dusun ini selalu banjir setinggi lutut orang dewasa. Banjir ini kerap terjadi di jalan nasional di depan Pabrik Platinum. Air selalu meluber ke seberang jalan karena drainase tak mampu memuat volume air hujan,” tandas Aris.

Selain itu, Aris menegaskan bakal menyelidiki ijin alih fungsi bantaran sungai yang dijadikan lahan parkir pabrik tersebut.

“Kita akan selidiki persoalan ini. Kalau pun lahan parkir ini berijin, pasti nominalnya gede. Masalahnya, pertama, bentuk bangunan permanen dan luas lahan parkir memakan seperempat lahan sungai. Kedua, tanah urug yang dipakai adalah limbah B3 yang berdampak pada ekosisitem kali,”imbuhnya.

Menurutnya, semua bangunan yang memakan sempadan sungai atau jalan, harus segera diperjelas. Dirinya mencontohkan, sejumlah warung yang merupakan bangunan semi permanen dan tidak mengganggu fasilitas umum saja hendak digusur dengan alasan tidak jelas. Apalagi, bangunan yang permanen.

“Lha kok lahan parkir pabrik ini yang jelas-jelas memakan sempadan sungai, dinas terkait tidak menyentuhnya sama sekali. Lalu pertanyaannya, berapa upeti yang mengalir dari pengusaha kepada dinas terkait? ini patut dipertanyakan,” pungkas Aris. (irw/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *