Galian C Terkesan Dibiarkan, Situs Makam Jago Panjilaras di Mojokerto Terancam

by -
Tampak dua alat berat beraktivitas di lokasi galian C yang berada di dekat situs Makam Jago Panjilaras, di Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

MOJOKERTO, urgensi.com – Kondisi situs peninggalan Kerajaan Majapahit, yakni Makam Jago Panjilaras, yang berada di Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terancam.

Betapa tidak, di sekeliling situs yang juga disebut-sebut sebagai petilasan Raja Majapahit yaitu Prabu Jayanegara ini, terdapat lokasi galian C yang hanya berjarak sekitar 2 meter dari lokasi situs. Mulai belakang, hingga kanan dan kiri situs, tampak adanya kegiatan penambangan pasir dan tanah urug.

Pantauan di lokasi, pada Sabtu (9/3/2019), beberapa alat berat berupa becho tampak beraktifitas melakukan penambangan. Selain itu, juga terdapat puluhan dump truk yang siap memuat hasil galian C. Kondisi ini, seolah penambang tidak peduli atas nasib lokasi situs bersejarah ini.

Salah satu warga sekitar yang enggan disebut namanya ini mengatakan, tambang galian C ini milik pengusaha tambang cukup ternama di Kabupaten Mojokerto. Namun, lanjutnya, dirinya juga mengaku tidak tahu secara pasti siapa pemilik galian C tersebut.

“Menurut kabar yang beredar, pemiliknya adalah berinisial pak Haji F. Tapi, saya juga tidak tahu secara pasti,” tuturnya.

Dirinya mengaku khawatir dengan kondisi situs bersejarah tersebut, lantaran sudah dikepung aktivitas galian C. Menurutnya, lubang yang dalam dan besar akibat aktivitas galian C tersebut, sudah mengelilingi situs peninggalan Kerajaan Majapahit ini. Bahkan, lanjutnya, kedalamannya mencapai hingga 65 meter.

“Ya, kira-kira kedalamannya sekitar 65 meter. Kami khawatir jika aktivitas galian C tersebut dibiarkan, akan mampu mengancam keberadaan situs makam jago itu,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, dirinya beserta warga lain, juga mengaku khawatir dengan kondisi lingkungan akibat adanya aktivitas galian C tersebut. Meski begitu, dirinya mengaku tidak tahu, akan mengadu kemana terkait persoalan tersebut.

“Ya tentu khawatir juga dengan kondisi lingkungan. Karena penambangan pasir dan tanah urug tersebut bakal menimbulkan efek negatif bagi lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Disinggung soal apakah galian C tersebut memiliki ijin, dirinya tidak tahu secara pasti. Dia mengaku, jika selama ini tidak pernah mendapati legalitas yang terpasang di lokasi penambangan.

“Jika pun ada, paling-paling itu ijin perusahaannya. Tapi, tidak sesuai dengan lokasi koordinat galian. Karena di WIUP (wilayah ijin usaha pertambangan,red), titik koordinaat lokasi galian itu sudah ditentukan,” katanya.

Dirinya juga menyayangkan, hingga saat ini tidak tampak adanya upaya penindakan dari aparat penegak hukum, meski aktivitas galian C tersebut sudah begitu mengancam keberadaan situs. Karenanya, dirinya juga meminta, agar pihak penegak hukum segera melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait hal tersebut.

“Ya, penambangan ini terkesan dibiarkan. Ini bisa saja akan merusak situs bersejarah serta lingkungan sekitar. Kami sih ingin, agar pihak terkait turun ke lokasi dan menindaknya,” pungkasnya. (nas/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *