Geram dengan Dampak Proyek Peningkatan Jalan, Warga Geruduk Balai Desa Betro

by -
Puluhan warga saat mendatangi Balai Desa Betro, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. (FOTO: IRW)

SIDOARJO, urgensi.com – Geram dengan dampak dari aktivitas proyek peningkatan jalan, puluhan warga Dusun Kepuh, Desa Betro, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mendatangi Balai Desa setempat, Rabu (12/12/2018).

Warga meminta, agar material proyek yang berlangsung di Desa Betro, tidak ditaruh di sembarang tempat. Mereka menilai, pihak kontraktor seenaknya sendiri saat mendatangkan material tersebut. Pasalnya, material yang didatangkan, menumpuk dan menutup akses jalan warga setempat.

“Saya sangat dirugikan, pekerjannya ngawur. Batu, paving maupun bahan material lainnya ditaruh sembarangan dan tidak ditata. Misalnya di depan pintu jalan masuk rumah warga, tempat usaha, dan tempat lainnya. Praktis, selama dua bulan, saya tidak bisa menafkahi keluarga,” jelas Farid Ubaidilah, warga yang ikut ngeluruk ke Balai Desa, dengan kesal.

Hal sama juga dialami Hermanto. Bapak dua anak ini mengaku tidak bisa berjualan selama dua bulan, karena tempat usahanya tertutup oleh adanya materiak proyek peningkatan jalan ini. Padahal, usahanya itu merupakan satu-satunya untuk mencukupi keluarganya setiap hari.

Warga semakin jengkel, karena warga mengeluarkan biaya ekstra yang jumlahnya jutaan rupiah untuk membuat akses masuk baru ke rumahnya masing-masing. Sebab, akses masuk sebelumnya rusak akibat pengerjaan proyek tersebut. “Lebih lagi, kami tidak mendapat kompensasi sepeser pun,” ujar Hermanto.

Sementara pihak Pemerintah Desa (Pemdes) merasa ikut kesal, karena tidak ada sosialisasi dari CV Sigma Perkasa kepada warga maupun pemberitahuan kepada Pemdes terkait proyek peningkatan jalan tersebut.

Kepala Desa Betro, H Luthfi, menyesalkan sikap arogan owner CV Sigma Perkasa, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya terkait pengerjaan proyek. Luthfi merasa dirinya dibenturkan dengan warganya.

“Kalau seperti ini, saya dibenturkan dengan warga saya. Warga menilai Pemdes menerima fee dari kontraktor CV Sigma Perkasa, karena proyeknya jalan terus. Padahal, secuil dokumen dari pihak kontraktor tidak ada di kantor Pemdes,” jelas Luthfi bernada jengkel, di forum tersebut.

Mendapat kecaman warga dan Kepala Desa, perwakilan CV Sigma Perkasa, Samsuri mengakui, jika CV-nya selama ini tidak melakukan sosialisasi kepada warga, maupun ijin kepada Pemdes.

Meski begitu, dua perwakilan kontraktor mengelak dituding material yang didatangkan untuk proyek tersebut dinilai ngawur. Dengan berbagai alasan, pihak kontraktor menolak mengeluarkan ganti rugi kepada warga yang sudah mengeluarkan biaya jutaan rupiah.

Kondisi ini, membuat Misbakul Huda, salah seorang perwakilan warga, tidak mau menandatangi kesepakatan bersama. Ia mengaku kecewa dan meminta maaf kepada warga karena gagal memperjuangkan aspirasinya.

“Saya mohon maaf, merasa diri saya menghianati warga. Karena minta tali asih atau apapun namanya, tidak dikasih. Malah dianggap provokator dan dikenakan pasal pemerasan. Rumah saya juga kebanjiran, dan hanya ucapan terimah kasih,” ungkapnya. (tan/irw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *