Hoax Kok Jadi Candu

by -
Ilustrasi

Oleh : Ade Lita Kusumaningrum
(Mahasiswa Sampoerna University)

Memang, di zaman sekarang teknologi sudah berkembang sangat luas. Dengan berkembangnya teknologi ini, informasi seputar kejadian-kejadian atau peristiwa di seluruh dunia dapat dengan mudah kita ketahui. Dengan tersebarnya internet dan semakin banyaknya media sosial yang berkembang di masyarakat, menyebabkan informasi dapat menyebar dengan cepat dan luas. Namun, dengan banyaknya media sosial yang tidak diimbangi dengan literasi digital membuat hoax atau berita palsu beredar dengan mudah di kalangan masyarakat. Seperti candu, hoax selalu saja ada dan tak bisa dihentikan.

Hoax yang baru-baru ini menggemparkan jagad negeri ini dan dramanya masih saja berlanjut adalah kasus hoax dari Ratna Sarumpaet. Entah apa yang membuat dirinya berkata bohong seperti itu. Katanya tak ada maksud politik dan lainnya. Tak hanya kasus Ratna saja, akan tetapi bencana alam yang merupakan peristiwa naas juga dibuatkan berita hoax yang meresahkan banyak masyarakat. Contohnya saja tentang peristiwa Tsunami di Palu, banyak orang yang menyebarkan video Tsunami yang harusnya itu adalah peristiwa Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 diunggah kembali dengan mengatasnamakan daerah Palu. Tak hanya itu, ada juga berita hoax tentang meletusnya Gunung Salak, dan bencana alam besar yang akan melanda beberapa daerah di Indonesia.

Entah apa dibalik penyebaran berita hoax ini. Apakah ada motif tertentu dari penyebaran hoax ini? Adakah motif politik terkait dengan penyebaran hoax ini, seperti hoax dijadikan sebagai bahan pengalih isu dari masalah-masalah diluar sana yang seharusnya menjadi bahan perbincangan dan patut didiskusikan dan dicari jalan keluarnya. Masih banyak hal yang perlu dibahas dan dituntaskan masalahnya.

Banyak sekali yang memperdebatkan kasus hoax ini, memperdebatkan siapa yang sebetulnya dirugikan karena berita palsu tersebut. Saling adu argumen akan tetapi malah pergi kemana-mana. Daripada menghabiskan waktu hanya untuk memprrdebatkan drama hoax, masih banyak hal lain yang petut dibahas. Contohnya saja di bidang ekonomi, hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi ini seharusnya menjadi pusat perhatian negeri ini, kian naiknya dolar terhadap mata uang rupiah, semua barang pokok harganya naik. Hal-hal tersebutlah yang sepatutnya menjadi topik hangat yang harus dicari jalan keluarnya, bukan malah kasus hoax yang tak terselesaikan ini.

Selain hoax berdampak pada dirugikannya salah satu pihak karena berita bohong yang tersebar, hoax juga akan berdampak kepada generasi muda yang notabennya merupakan pengguna media sosial yang paling banyak. Hal-hal ini akan membuat menurunnya produktivitas generasi muda karena mereka menjadi intoleran terhadap sekitar karena terpengaruh dengan berita hoax. Generasi muda adalah orang yang dengan gampang tertipu dan mudah percaya terhadap berita-berita yang beredar. Jika hoax terus menyebar akan menyebabkan terjadinya kegaduhan yang besar.

Disini dibutuhkan tindakan tegas untuk para penyebar hoax, memang telah ada hukum yang mengatur tentang penyebaran berita bohong yang dapat menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat dan ada pihak-pihak yang dirugikan dalam penyebaran ini. Sebetulnya hoax merupakan tindakan yang melanggar UU No.11 Tahun 2008 Pasal 28 ayat 2 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Orang-orang yang terciduk menyebarkan hoax akan diberikan sanksi pidana selama enam tahun masa penjara dan/atau denda sebesar Rp 1 Miliar.

Untuk menimbulkan efek jerah kepada masyarakat dan untuk meminimalisir terjadinya penyebaran hoax di kalangan masyarakat, tidak hanya sanksi pidana saja yang dapat diterapkan. Akan tetapi, sanksi sosial juga dapat diberikan kepada mereka para penyebar hoax. Seperti dicap atau penandaan sebagai pembohong dan dicabut haknya dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan sebuah efek jerah bagi para pelaku.

Tak hanya pelaku saja yang diberikan tindakan tegas, untuk meminimalisir terjadinya penyebaran berita hoax, tapi kita sebagai netizen yang baik juga harus melek literasi digital. Mempunyai kesadaran dan kemampuan dalam menggunakan teknologi dan informasi secara baik dan benar. Tidak dengan cara menelan bulat-bulat berita yang tidak kita ketahui asal dan kebenarannya. Selalu waspada dan selalu mengecek tentang berita yang kita dapat, apakah hal itu benar atau tidak. Karena jika hoax terus saja beredar, hal itu akan menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Juga, akan menimbulkan ketidak-percayaan oleh masyarakat terhadap semua berita yang ada, meskipun berita itu benar adanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *