Memarkir Truk Berniat Hilangkan Kantuk di Area Parkir Darurat Tol, Malah Ditilang

by -
Berniat menghilangkan kantuk dengan beristirahat di area parkir Darurat Tol, petugas malah memberi sanksi tilang. (FOTO: IRW)

SURABAYA, urgensi.com – Berniat menghindari kecelakaan atau hal-hal yang tidak diinginkan akibat mengantuk saat mengemudi, Wan (40) sopir truk asal Desa/Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, memilih memarkir truknya di area Parkir Darurat Tol Surabaya – Gempol, sebelum Exit Tol Pasar Kembang, arah menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu (28/11/2018) sekitar pukul 07.25 WIB.

Namun, sial bagi Wan. Belum sempat memejamkan matanya, dirinya didatangi dua orang petugas Anggota PJR Polda Jatim.

Kepada media ini, Wan menceritakan, saat itu, Briptu Budiman, salah satu dari Anggota PJR tersebut, langsung menanyakan surat kendaraan. Tanpa salam, dan tanpa hormat lebih dulu laiknya petugas lain. Setelah ditunjukkan oleh Wan, surat kendaraan langsung dibawanya ke mobil PJR.

Petugas pun langsung menulis kesalahan di surat tilang tersebut. Selesai menulis kesalahan di blangko tilang, lanjut Wan, polisi tersebut menyuruhnya tanda tangan, sambil bertanya terkait pelanggaran yang terjadi pada truk berwarna kuning tersebut.

“Anda tahu apa kesalahan anda? Kalau area parkir darurat tol itu tidak boleh digunakan untuk istirahat pengemudi yang ngantuk. Yang diperbolehkan parkir hanya kendaraan yang rusak,” cerita Wan menirukan perkataan anggota tersebut dengan nada tinggi.

Merasa dirinya dalam kondisi darurat yakni mengantuk, Wan mencoba membela diri. Cek-cok kecil pun terjadi antara Wan dengan dua anggota PJR Polda Jatim tersebut.

“Kalau seandainya terjadi laka lantas, siapa yang bertanggung jawab. Saya sedang mengantuk, karena semalaman saya belum tidur, pak. Membawa barang dari luar kota,” bela Wan di hadapan petugas.

Bukannya memberi toleransi, malah Anggota lain membantu temannya, memaksa untuk membubuhkan tanda tangan pada surat tilang, dengan nada agak kasar.

“Ayo cepet! tanda tangani surat tilang ini. Siapa pun kamu saya gak peduli. Walau kamu saudaranya Kapolda pun akan saya tindak,” kata Wan, menirukan perintah Anggota lain agar menanda tangani surat tilang dengan memaksa.

Dengan jengkel dan terpaksa, Wan akhirnya menanda-tangani surat tilang tersebut. Meski begitu, dirinya mencoba berlapang dada, karena itu merupakan hal biasa bagi sopir.

“Nggak apa-apa saya ditilang. Asal pelanggaran lalu-lintasnya jelas. Jangan terkesan mencari-cari kesalahan pengguna jalan. Ini kan area parkir dan ada rambu-rambu parkir kok tidak boleh parkir, hanya karena ada ada tulisan “Darurat”. Saya ini ya sedang kondisi darurat, sedang ngantuk. Ketimbang kecelakaan kalau saya paksa mengemudi,” pungkasnya. (irw/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *