Misteri Pembunuhan Wanita di Badas Terungkap, Usai Pelaku Beraksi Lagi di Desa Tretek

by -
Tersangka beserta barang buktinya, saat dirilis petugas di Polsek Pare, Kediri.

KEDIRI, urgensi.com – Aksi pencurian di rumah H Qomarudin, warga Dusun Semanding Desa Tretek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, yang digagalkan warga desa setempat, rupanya mengungkap misteri kasus pembunuhan terhadap seorang ibu muda, setahun lalu.

Korban bernama Binti Nafiah (39) warga Jalan Angsa, Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Binti tewas, usai memergoki aksi pelaku menggasak uang milik korban, pada 9 Juni 2018 silam. Pelaku menghantam kepala korban dengan linggis hingga tewas. Padahal, korban saat itu sedang tidur bersama anaknya.

Kapolsek Pare AKP Mustakim mengatakan, usai melakukan aksinya, pelaku langsung melarikan diri ke Surabaya selama 1 tahun. Namun pada Kamis, 13 Juni 2019 lalu, pelaku kembali melakukan kejahatan. Ia nekad mencuri di rumah H Qomarudin, warga Dusun Semanding, Desa Tretek, Kecamatan Pare, Kediri.

Nahas bagi pelaku, belum berhasil menyikat barang berharga di rumah warga, aksi pelaku diketahui warga dan ditangkap warga desa, dan diserahkan ke Polsek Pare.

Di situlah, polisi melakukan penyelidikan dan interogasi. Terungkap, jika pelaku yakni Pelaku adalah Sugeng Riadi (40) warga Dusun Pulosari, Kelurahan/Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, adalah pelaku pencurian dan kekerasan yang berakibat kematian korban.

“Pelaku kepergok warga yang telah melakukan pencurian di salah satu rumah warga Dusun Semanding, Desa Trerek, Kecamatan Pare. Kita lakukan penyelidikan dan pengembangan, terungkap pelaku adalah buron kasus curas berakibat tewas korbannya di Badas,” terang AKP Mustakim, Jumat (21/6/2019).

Kapolsek juga menceritakan kronologi pembunuhan dan atau pencurian dengan kekerasan yang terjadi pada 9 Juni 2018 silam, sekitar jam 03.00 WIB. Pelaku masuk ke dalam rumah dengan cara mencongkel pintu belakang dengan menggunakan linggis.

Begitu di dalam rumah, tepatnya di atas bupet yang berada di ruang tamu, Sugeng mengambil tas warna cokelat muda. Selanjutnya, pelaku Sugeng mengambil dompet wanita warna cokelat lalu mengembalikan tasnya ke tempat semula. Setelah itu, dia keluar rumah lewat belakang dan mengambil uang yang berada di dalam dompet tersebut sebesar Rp 1.800.000.

“Uang tersebut, kemudian dimasukkan ke saku celana lalu dompetnya dibuang di belakang rumah,” ungkap AKP Mustakim.

Tak puas dengan hasilnya, Sugeng kemabali masuk ke dalam rumah. Dia kemudian mengambil tas cokelat di ruang tamu, serta mengambil dompet perhiasan warna biru yang berisi perhiasan gelang. Dan tas tersebut dikembalikan.

Setelah itu, Sugeng mengambil uang recehan di rak etalase toko. Nah, disaat itu pemilik rumah (korban) yang posisinya di belakang Sugeng, terbangun dari tidurnya. Sugeng pun panik langsung balik arah, kemudian menyerang korban.

“Mengetahui pemilik rumah bangun, Pelaku berbalik dan langsung menyerang dengan cara menusuk dan mengayunkan linggis kecil yang dipegang (dibawa) pada tangan kanannya ke arah kepala belakang bagian kiri sebanyak satu kali, dan pemilik rumah tersebut langsung jatuh duduk dan merintih kesakitan,” kataya.

Mendengar kejadian itu, anak korban yang berumur sekitar 10 tahun, juga terbangun. Namun, pelaku langsung membentak dan menyuruhnya untuk tidur lagi. Bocah itu hanya diam saja, lalu Sugeng kabur ke rumah kontrakannya, di wilayah Kenjeran, Surabaya.

“Di saat pergi, pelaku membuang dompet di sawah dan perhiasannya dibawa,” katanya.

Akibat kejadian itu, korban (Binti Nafiah) tewas di lokasi kejadian dengan luka parah di bagian kepala sebelah kiri, karena hantaman linggis tersebut.

Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti 1 buah linggis kecil yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban, 1 buah kerpus warna hitam, serta pakaian korban dan pelaku.

Di hadapan polisi, pelaku mengaku, uang hasil kejahatan mencuri di rumah Binti Nafiah setahun lalu sebesar Rp 1,8 Juta, telah habis untuk kebutuhan hidup di Kediri dan Surabaya.

“Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 365 dan pasal 338 ayat (3) dan Pasal 363 jo Pasal 365 KUHP tentang pembunuhan atau pencurian disertai kekerasan Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” pungkas AKP Mustakim. (jur/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *