Pria Tua asal Sidoarjo, Nekad Gantung Diri di Rumah Sang Kakak di Kediri

by -
Petugas saat melakukan olah TKP dengan memasang police line.

KEDIRI, urgensi.com – Entah apa yang ada di benak Djupri (66) warga Desa Geluran, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, hingga nekad mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Pria tua ini, nekad gantung diri di dalam rumah almarhum kakaknya di Desa Sambirobyong, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Kasi Humas Polsek Pagu, Bripka Erwan Subagyo mengatakan, dari keterangan sejumlah saksi, korban nekad gantung diri, diduga dia tinggal sebatang kara. Kondisi ini, setelah kakaknya meninggal dunia dua bulan lalu.

Dijelaskannya, korban ditemukan gantung diri oleh Yanti (39), saudara korban. Saat itu, Yanti hendak mengantar makanan. Kondisi rumah yang terkunci dari dalam, dirinya pun mengetuk pintu rumah. Tak ada yang membuka pintu, Yanti pun memanggil-manggil korban. Namun, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam rumah.

Khawatir dengan kondisi itu, Yanti pun memberitahu para tetangganya. Karena tak ada yang membuka pintuk, oleh warga pintu rumah didobrak. Nah, begitu pintu terbuka, pria tua tersebut sudah dalam kondisi tergantung, dan sudah tidak bernyawa. Buru-buru, sejumlah warga melapor ke Polsek Pagu.

Polisi yang datang bersama petugas medis, kemudian mengevakuasi korban dan melakukan olah TKP dengan memasang police line. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan pada tubuh korban.

“Korban meninggal murni gantung diri. Sebab, tidak ada tanda-tanda penyebab yang mengarah pada penganiayaan,” jelas Kasi Humas, Bripka Erwan, Minggu (3/2/2019).

Dari keterangan sejumlah saksi, korban mengalami depresi karena dia baru saja ditinggal meninggal dunia oleh kakak kandungannya yang belum genap dua bulan. Karena itu, korban kemudian hidup sebatangkara di rumah tersebut.

“Sebelum gantung diri, korban sempat bercerita kepada tetangganya bila tidak ingin menyusahkan keluarganya. Selanjutnya, jenazah korban kita serahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan, karena keluarga menolak jenazah korban diotopsi,” pungkas Bripka Erwan Subagyo. (chy/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *