Puluhan Tahun Terdampak Banjir, Warga di Kecamatan Driyorejo Demo

by -
Lama kawasannya menjadi langganan banjir setiap musim penghujan tiba, warga Desa Sumput, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, menggelar aksi unjukrasa, Jumat (15/12/2018) malam.

GRESIK, urgensi.com – Lama kawasannya menjadi langganan banjir setiap musim penghujan tiba, puluhan warga Desa Sumput, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, menggelar aksi unjukrasa, Jumat (15/12/2018) malam. Pasalnya, akibat banjir tersebut, aktifitas warga jadi terisolir di saat musim penghujan.

Dengan membentang spanduk bertulis “Masyarat Driyorejo Bosan Banjir Musiman Pak Bupati!!!”, mereka memblokir jalan poros yang menghubungkan Desa Driyorejo dengan Desa Sumput. Mereka mengaku kesal, lantaran hingga saat ini, tidak ada solusi untuk mengatasi banjir musiman tersebut.

Beni, warga setempat yang ikut aksi tersebut mengatakan, banjir musiman ini sudah terjadi beberapa tahun belakangan. Menurutnya, banjir terjadi, karena mampetnya saluran drinase jalan dan kali afvour. Parahnya lagi, kondisi ini tidak pernah ada normalisasi dari dinas terkait.

Mampetnya drainase tersebut, sedikitnya ada 4 dusun yang tergenang air setinggi pusar orang dewasa. Keempat dusun itu yakni dusun Sumput, Tanjungan, Kesamben Wetan, dan Driyorejo. Yang paling parah tergenang adalah jalan poros desa yang menghubungkan desa Driyorejo menuju desa Sumput.

Dirinya mengaku, jika warga Sumput kerapkali mengadu ke Pemerintah, mulai desa sampai kecamatan. Tapi, hingga saat ini, belum ada tanggapan.

“Pemandangan seperti ini sudah jadi tradisi di saat musim penghujan. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah setempat dan dinas terkait. Awak dewe iki wes pegel, ngadu nang deso nang kecamatan tapi buktine endi. Mek diiyoni tok tapi gak ono prakteke (Jawa). Kita ini sudah capek, mengadu ke pemerintah baik desa dan kecamatan, tapi buktinya mana. Cuma diiyakan saja, nggak ada realisasinya,” ujar Beni.

Disinggung apakah pernah mengadu ke Pemkab Gresik. Dirinya mengaku, hal tersebut tidak dilakukan warga setempat. Pasalnya, mereka beranggapan sebagai masyarakat kecil, cukup mengadu ke Pemdes atau Kecamatan.

“Kita ini orang kecil. Apa fungsinya Kepala Desa dan Camat, kalau kita disuruh mengadu langsung ke Pemkab Gresik. Mending dihapus aja perwakilan yang ada di desa dan kecamatan ini,” selorohnya.

Sementara itu, LSM FPSR Gresik, Aris, membenarkan banjir musiman yang terjadi di Desa Sumput, menjadi persoalan yang berkepanjangan dan tak pernah ada sentuhan solusi. Dirinya menyayangkan tidak adanya perhatian dari pemerintah maupun dinas terkait.

“Kebetulan saya merupakan penduduk asli Desa Driyorejo, jadi tahu keadaan sesungguhnya. masalah yang dihadapi warga ini tidak hanya di tahun-tahun terakhir ini saja. Mungkin sudah terjadi sejak sepuluh tahunan terakhir ini. Kalau saya gerak sendiri mengatas namakan lembaga, entar dikiranya saya mencari-cari. Padahal ini adalah permasalahan yang kompleks yang tiap tahun dihadapi warga,” ujarnya bersama puluhan warga yang menggelar aksi di lokasi banjir.

Aris mengatakan, akan berupaya membantu masyarakat untuk mencarikan solusi atas banjir musiman yang dialaminya ini. “Nah, karena saat ini warga menggandeng FPSR, secepatnya kita akan temui pihak-pihak terkait untuk membahas persoalan ini,” pungkasnya. (irw/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *