Resahkan Limbah Diduga B3 dari PT PRIA, Warga Lakardowo Nilai Pemerintah Bungkam

by -
Rumah warga yang diurug pakai slag besi, limbah dari PT PRIA ini dibongkar, karena berdampak pada Ispa dan gatal-gatal. (FOTO: IRW)

MOJOKERTO, urgensi.com – Warga Dusun/Desa Lakardowo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengeluhkan keberadaan pabrik pemanfaat dan pengolahan limbah yang berdiri di desanya. Betapa tidak, sekitar 9 tahun warga Desa Lakardowo hidup terkontaminasi dengan racun limbah diduga Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dikelola oleh PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA), Rabu (16/1/2019).

Warga setempat menilai, limbah diduga B3 tersebut, hanya sebagian kecil yang diolah sebagai bahan pembuat paving atau batako. Namun, sebagian besar langsung ditimbun dalam tanah tanpa menggunakan alas dan pembatas di sisi kiri dan kanan lubang penimbun limbah. Sehingga lindi dari limbah B3 yang tertimbun, meresap ke sumber air dan sumur warga.

Sebelum adanya PT PRIA, warga setempat sangat aman menyuplai air bersih untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedikitnya, ada 3 Dusun yang terdampak limbah diduga B3 dari PT PRIA. Paling parah, yakni Dusun Kedung Palang, Dusun Sambu Gembol, Dusun Sumber Wuluh. Rata-rata, mereka mengeluh lantaran kualitas air dari tiga dusun tersebut berangsur menurun tiap harinya.

Hal ini sejalan dengan Uji TDS (Total Dissolved Solid) air, yang dilakukan komunitas Green Women, Sutamah dan Rumiati, dimana tiap hari kandungan terlarut dalam air, menunjukkan hasil yang melewati ambang batas baku mutu. Sehingga, warga Desa Lakardowo harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya.

Selain air bersih, warga juga merasa terganggu dengan asap hitam pekat yang dikeluarkan dari cerobong pembakaran limbah medis PT PRIA. Dengan jarak yang tak jauh dari pemukiman warga, asap tersebut mengenai beberapa lahan pertanian warga dan mengganggu tiga sampai lima Dusun sekaligus yang ada di sekitar PT PRIA.

Setiap hari, warga Desa Lakardowo harus menikmati bau busuk yang menyengat dari aktifitas PT PRIA. Bau tersebut, dirasakan mulai dari pagi hingga menjelang malam.

“Kita sampai dipusingkan dengan keberadaan PT PRIA ini. Sudah dari dulu kita tegur lewat managemen pabrik, tapi mereka cuek-cuek saja. Bahkan, kita juga pernah melakukan unjukrasa di depan kantor Pemkab Mojokerto, tetap belum juga ada titik terang,” katanya.

Dikatannya, aduannya melalui demonstrasi dinilai stagnan, pihaknya bersama ratusan warga kemudian menggelar aksi unjukrasa di kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, pada (10/1/2019).

“Saat demo ke kantor Pemprov Jatim, kita membawa 300 orang dan semuanya adalah ibu-ibu,” kata Sarpan, warga setempat juga Korlap aksi unjuk rasa saat itu, dengan nada kesal.

Sarpan mengatakan, polemik yang dihadapi oleh warga ini sudah lama. Namun, aparat desa sampai kabupaten seakan turup mata. Padahal, polemik ini sangat kompleks dan berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan hidup yang ada di sekitar.

“Tapi kenyataaanya, sampai sekarang pabrik pengolahan limbah B3 ini kok dibiarkan beroperasi dengan seenaknya, tanpa melihat dampak yang dihasilkan. Apakah mereka yang di atas ini, sudah mendapat upeti dari PT PRIA, sehingga dia tidak mau bertindak sesuai aturan yang ada,” pungkasnya dengan nada geram, Rabu (16/1/2019). (irw/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *