Sosialisasi Rencana Penggusuran PKL Berbuntut, Diduga Ada Kepentingan Investor

by -
Sosialisasi tentang rencana penertiban warung semi permanen atau pedagang kaki lima (PKL) yang berada di pinggir jalan raya Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.

GRESIK, urgensi.com – Sosialisasi tentang rencana penertiban warung semi permanen atau pedagang kaki lima (PKL) yang berada di pinggir jalan raya Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, oleh Dinas PU Gresik, PJU dan Forkopimka, di balai desa setempat, pada Rabu (6/2/2019) lalu, rupanya berbuntut.

Para pedagang warung semi permanen tersebut menduga, penertiban tersebut dilakukan terkesan tebang pilih. Pasalnya, sedikitnya ada 70 bangunan yang berdiri di di sepanjang jalan provinsi ini. Namun, hanya 10 warung yang bakal terkena gusur. Tepat di depan pabrik Jawa Pos Grup.

Sebelumnya, jumlah 10 warung yang bakal terimbas tersebut diketahui dari Surat Edaran dari Dinas Pekerjaan Umum yang dilayangkan kepada sejumlah pemilik warung. Isinya, akan ada penertiban sejumlah warung yang berdiri di depan Jawa Pos Grup.

Beredar rumor, jika adanya penertiban warung semi permanen ini, berawal dari salah satu lahan milik warga, yang diduga sudah terbeli oleh investor asing. Karena di depan lahan tersebut ada sejumlah warung, pemilik lahan rupanya tidak mau kalau di depan lahan miliknya ditempati para PKL.

Pemilik salah satu warung di lokasi bernama Ina (39) menceritakan, penggusuran warung semi permanen itu, diawali dari 8 warung yang berada di depan pabrik Ever Age. Tepat di belakang warung itu, ada lahan yang sudah dibeli investor asing.

“Dulu, di depan pabrik Ever Age, sudah pernah terjadi penggusuran yang dilakukan oleh Poniman Kades Sumengko. Penggusuran menggunakan alat berat berupa excavator ini sempat merusak emperan warung. Sehingga terjadi insiden antara Kades dan pemilik warung. Tapi, para PKL kompak menolak, karena alasan pembongkaran warungnya tidak jelas. Akhirnya gagal dan ditangguhkan,” katanya.

Hingga akhirnya, lanjut Ina, pemilik warung diundang untuk datang ke balai desa Sumengko, pada Rabu (6/2/2019). Disitu dijelaskan, jika penertiban warung semi permanen ini untuk normalisasi drainase karena banjir.

“Tapi kali ini, yang ditertibkan bukan di depan pabrik Ever Age. Melainkan warung yang berada di depan Jawa Pos Grup, karena penghuninya ada yang berasal dari luar Sumengko,” imbuhnya

Terpisah, pejuang aspirasi rakyat dari LSM FPSR, Aris Gunawan saat dikonfirmasi terkait persoalan ini mengaku heran dengan rencana penertiban terhadap 10 warung yang berada di Desa Sumengko. Pihaknya berharap, pemerintah harus berlaku adil terhadap mereka sebagai masyarakat.

“Jika dilakukan penertiban, harusnya warung-warung kecil yang berdiri di sepanjang jalan Legundi sampai Desa Kedunganyar, Kabupaten Gresik ini, ditertibkan semua. Jika hanya 10 warung yang ada di depan Jawa Pos Desa Sumengko saja yang akan ditertibkan, ada apa ini?,” katanya.

Aris menegaskan, para pedagang warung tersebut siap pindah jika ada program proyek fasilitas umum (Fasum) berupa pelebaran jalan atau trotoar. Jika alasan penggusuran karena normalisasi sungai untuk mengatasi banjur, menurutnya, hal itu tidak rasional. Sebab, di sepanjang jalan provinsi Desa Sumengko, tidak pernah banjir.

“Justru yang harus jadi sorotan khusus dari dinas itu di Kecamatan Driyorejo yang tiap musim penghujan tiba, pasti banjir. Ada lagi, di depan pabrik platinum yang kerap banjir. Ketika intensitas hujan tinggi, airnya meluber ke seberang jalan. Dan lagi, untuk menempati lahan milik PU ini tidak gratis. Tiap bulan, petugas dari desa datang untuk meminta uang sewa sebesar Rp 50 ribu dikalikan berapa penghuni,” tandasnya. (irw/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *