Stop Kegiatan Impor, Genjot Kegiatan Ekspor Untuk Atasi Kenaikan Dolar

by -

Oleh : Dita Karina Dinata
(Mahasiswi Jurusan Managemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), asal Kota Batu)

Dolar AS merupakan mata uang Internasional yang menjadi patokan perbandingan oleh mata uang negara lain. Karena hal ini, kenaikan dolar AS tak hanya dirasakan oleh Negara Indonesia saja, melainkan negara lain yang menjadikan dolar AS sebagai patokan.

Sejak awal 2018 di Indonesia, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap mata uang dolar AS. Jika di awal 2018 lalu rupiah bergerak dikisaran 13.500 terhadap dolar AS, namun pada saat ini rupiah telah menyentuh angka 15.000 dan tepatnya 14.800 per dolar AS. Banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan dolar yang terus melejit hampir tiap tahunnya. Salah satu faktor nya yaitu Bank Sentral Amerika, Federal Reserve, yang berencana menaikkan suku bunga acuan hingga 2%. Federal Reserve itu seperti Bank Indonesia nya Amerika. Karena suku bunga dolar naik, imbalan hasil surat hutang dolar juga otomatis akan naik. Maka banyak investor di bursa efek mengalihkan dana investasinya dalam bentuk dolar AS agar bisa mendapatkan bunga yang besar. Karena banyaknya orang yang mengalihkan investasinya dalam bentuk dolar AS, akibatnya mata uang tersebut juga mengalami peningkatan terhadap mata uang Negara lain di dunia, termasuk Indonesia.

Kenaikan dolar tersebut sangat mempengaruhi berbagai kegiatan ekonomi. Mulai dari kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Sebelum kita berbicara mengenai kegiatan ekonomi, kita harus memahami apa itu produksi, distribusi, dan konsumsi. Kegiatan produksi memiliki arti suatu aktivitas atau pekerjaan yang dapat menghasilkan suatu produk. Konsumsi adalah aktivitas penggunaan atau memakai barang atau jasa yang dihasilkan oleh produsen. Dan Distribusi dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen dan konsumen.

Kegiatan ekonomi yang sangat terasa dampaknya yaitu produksi dan konsumsi. Produksi dapat diartikan sebagai kegiatan ekspor dan konsumsi sebagai kegiatan impor. Dengan naikknya rupiah terhadap dolar tentu hal itu sangat mempengaruhi para eksportir dan importer. Bagi para eksportir hal ini sangat memberikan keuntungan yang sangat besar, namun berbanding terbalik dengan para importer yang mengalami kerugian atau mendapatkan laba yang menipis.

Apa sih ekspor dan impor itu? Ekspor adalah penjualan barang ke luar negeri yang menggunakan sistem pembayaran dengan memperhatikan kuantitas dan kualitas dalam negeri. Sedangkan Impor adalah proses pembelian barang atau jasa asing dari suatu Negara ke Negara lain. Dengan naikknya dolar terhadap rupiah tidak semata-mata memberikan dampak negatif, ada pula dampak positif yang dapat kita rasakan.

Dampak negatif dapat dirasakan para importer yang perusahannya memerlukan bahan baku dari luar negeri. Karena sudah terbiasa dengan bahan baku serba impor, dengan naiknya dolar direktur perusahaan harus mengubah system yang berlaku di perusahaannya agar mencari bahan baku dari dalam negeri. Dengan menggunakan bahan baku dalam negeri, perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal sesuai target yang ditentukan oleh perusahaan. Dengan begitu, bahan baku yang ada di Indonesia akan diperbaiki demi mengerem kegiatan impor. Walaupun beberapa bahan baku di Indonesia kualitasnya tidak sebagus di luar negeri, dengan naiknya dolar akan memperbaiki kualitas produk dalam negeri. Apabila kegiatan impor tidak dihentikan, dampaknya dirasakan perusahaan yang mengimpor bahan baku akan mendapatkan keuntungan yang menipis.

Selain dampak negatif, kenaikkan dolar tidak semuanya memberikan dampak yang buruk. Ada pula dampak positif yang dirasakan oleh para produsen yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Sebagai contoh produsen yang memproduksi patung pahat. Indonesia sangat dikenal dengan keanekaragaman budayanya. Budaya Indonesia sendiri sangat dihargai di luar negeri. Dengan naikknya dolar, produsen seharusnya bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengekspor barang dagangannya. Bahan baku yang dibutuhkan untuk memahat sebuah patung tidak lah rumit. Kita tidak perlu mengimpor bahan baku, karena bahan baku sudah tersedia di Indonesia dengan kualitas yang sangat bagus.

Bukan hanya patung pahat saja, tanaman herbal pun bisa kita ekspor. Mengenal Indonesia adalah negara maritim yang terkenal kaya akan rempah-rempah. Negara maju seperti AS, Inggris, Jepang, Kanada sangat membutuhkan tanaman herbal untuk memperkuat cita rasa produk makanan atau bisa juga digunakan sebagai obat-obatan.

Setiap tahun permintaan tanaman herbal dari tahun ke tahun mengalami peningkatan di pasar ekspor, tentu hal ini sangat menguntungkan bagi para petani lokal. Dengan naiknya dolar, tentu hal ini sangat memberikan peluang bagi para petani untuk mengekspor sebanyak – banyaknya hasil tanaman herbal.

Kenaikkan dolar terhadap rupiah tidak lah dipandang sebelah mata. Seolah-olah dengan naiknya Dolar akan membuat kebangkrutan setiap perusahaan. Justru momentum ini bisa untuk merubah system perusahaan yang semula selalu mengimpor bahan baku, kini bisa memanfaatkan bahan baku lokal yang harganya jauh lebih murah daripada impor. Dan kita harus mengekspor sebanyak-banyaknya produk lokal, agar keuntungan yang didapat berlipat ganda.

Masyarakat Indonesia juga dapat membantu penguatan rupiah dengan mencintai produksi dalam negeri terutama yang kandungan lokalnya lebih tinggi. Dengan begitu, apabila Indonesia melaksanakan system ‘menggenjot kegiatan ekspor dan mengerem kegiatan impor’ maka permasalahan kenaikan dolar setidaknya sedikit bisa teratasi. Oleh karena itu, kita sebagai warga Negara Indonesia harus turut serta membantu menyetabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar dengan cara mencintai dan memperbaiki produk-produk dalam negeri, agar semakin tahun nilai tukar rupiah tidak mengalami kenaikan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *