Usai Nyopir Bikin Miras, Seminggu Mampu Hasilkan 170 Botol Arak

by
Tersangka beserta barang bukti, saat dirilis polisi di Polres Malang.

MALANG, urgensi.com – Heri (29) harus berurusan dengan polisi. Ini lantaran dirinya memproduksi minuman keras (Miras) secara ilegal. Dia diamankan petugas di rumahnya, Dusun Gelanggang, Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Selain tersangka, polisi juga mengamnkan 960 kardus minuman keras ilegal siap edar, satu drum besar dan kecil miras siap kemas, tawas, 14 drum miras setengah matang. Kemudian, polisi juga menemukan 20 drum miras siap proses. Serta, seperangkat alat produksi dan pengukur kadar alkohol.

Wakapolres Malang, Kompol Yhogi Hadi Setiawan menjelaskan, penangkapan tersangka yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ini, berawal dari informasi masyarakat yang mengetahui adanya aktivitas mencurigakan di bangunan yang dulunya bekas selep beras itu.

“Setelah kami selidiki dan mengumpulkan bahan keterangan dari masyarakat akhirnya kami amankan tersangka. Dia kami amankan di rumahnya,” jelas Yhogi, Jumat (5/10/2018).

Yhogi menambahkan, proses produksi miras diduga dikerjakan sendiri oleh tersangka. Biasanya, dilakukan ketika Heri usai menjalankan pekerjaannya sebagai sopir.

“Setelah jadi sopir, baru memproduksi miras. Kadang bikinnya malam atau pagi, tergantung kapan selesainya kerjaan utamanya,” papar Wakapolres.

Dengan modal yang minim, Heri dalam seminggu bisa menghasilkan 170 botol miras ilegal jenis arak atau trobas. Satu botol memiliki berat bersih 1,5 liter. Kemudian dikemas lagi dalam satu kardus dengan isi 8 botol. Satu kardus miras ilegal yang siap jual ini, dibeli dengan harga Rp 250 ribu.

“Pokoknya satu kardus miras yang saya jual ini dibeli Rp 250 ribu,” terang Heri, Jumat (5/10/2018) sore, di Mapolres Malang.

Heri sudah memproduksi miras sejak 7 bulan lalu. Ia menggunakan bahan baku berupa ragi dan gula. Untuk menjernihkan air minuman keras tersebut, Heri menggunakan tawas. Sementara bahan baku lainnya, ia peroleh dari temannya di Tuban.

“Untuk bahan miras berupa ragi, saya dapat dari Tuban, dari teman saya. Sekali masak, kita gunakan dua drum besar dengan gula pasir sebanyak 80 kilogram,” ujar Heri.

Hasil produksi Miras ilegal yang terbuat dari penyulingan air gula dan ragi tersebut, dijual di kawasan Tuban. Sebagian juga dijual di kawasan Malang.

Atas perbuatannya, Heri diancam dengan tiga pasal berlapis sekaligus. Yakni pasal 62 subsider pasal 8 UU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Kemudian, pasal 142 dan 140 UU nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan.

Selanjutnya, Pasal 204 KUHP perbuatan melawan hukum karena menjual barang berbahaya. “Ancaman hukuman 15 tahun penjara,” pungkas Yhogi. (bej/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *