Warga Keluhkan Bau Menyengat dari Pengolahan Rosokan Diduga Tak Berizin

by
Pabrik pengolahan rosokan milik Lilik, yang berada di Desa Gogorante, tanpa papan nama. (FOTO: CHY)

KEDIRI, urgensi.com – Seperti diketahui, kawasan Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem adalah salah satu kawasan daerah industri. Letak desa yang hanya sekitar dua kilometer sisi barat dari ikon dan kebanggaan Kabupaten Kediri yaitu SLG (Simpang Lima Gumul). Disana, banyak berdiri pabrik bermacam usaha produksi, dan satu pabrik atau tempat usaha di desa tersebut.

Salah satu pabrik tempat usaha, rupanya mampu menyedot perhatian adalah saat melintas di Dusun Balong. Saat melintas di wilayah tersebut, bau menyengat mulai tercium hidung yang berasal dari pabrik pengolahan rosokan di dusun tersebut.

Lokasi pabrik tersebut berada di antara rumah warga, rapat berdekatan dengan padatnya rumah rumah penduduk di sekitar pabrik. Warga sekitar, seperti sudah terbiasa dengan bau yang menyengat yang berasal dari pengolahan limbah pabrik rosokan, yang menurut sumber, milik pengusaha asal Kota Kediri.

Kalau mesin pengolahan rosokan beroperasi, bau menyengat sudah terasa, sekitar 100 meter dari tempat pengolahan limbah sampah yang berada di RT 34 RW 08 Dusun Balong, dan berdiri sudah lama.

“Sudah lama, pabrik pengolahan rosokan limbah itu berdiri. Ya sehari-hari begini sudah terbiasa, saya sampai hafal dari baunya,” kata warga sekitar yang mengaku berinisial P.

Selain itu, P juga mengaku merasa prihatin dengan keberadaan pabrik tersebut karena dirasa kurang memberi manfaat bagi warga sekitar. “Di sini, ada dua tempat pengolahan sampah, milik bu Lilik warga Kelurahan Burengan Kota Kediri, karyawanya ada 100-an, warga sekitar sini jarang yang kerja di situ, mayoritas warga luar desa ini,” terang P kepada urgensi.com yang mengaku sampai hafal bau-bau yang menyengat hidung yang ditimbulkan oleh pengolahan limbah rosokan.

Menurutnya, yang paling menyengat kalau sedang mengolah limbah rosokan sampah obat. “Baunya terasa menusuk hidung hingga paru-paru. Warga sekitar merasa terganggu, dan minim kontribusi ke daerah sekitar. Limbahnya terlihat dibuang ke sungai Burengan barat sana,” jelas P.

Sementara Ketua RT 34 RW 08, Soim saat dikonfirmasi di rumahnya, pada (10/10/2018) lalu, mengaku tidak mengetahui tempat usaha milik Lilik yang berada di dua tempat tersebut berizin atau tidak. “Saya tidak tahu usaha itu punya izin apa tidak, sudah lima tahun saya jadi RT di sini,” tutur Soim.

Ketika ditanya tidak adanya papan PT atau UD di tempat usaha tersebut soim mengaku tidak tahu-menahu. “Memang, Bu Lilik sering membantu kalau pihak RT minta bantuan. Sifatnya bantuan parsitipasi sebagai warga membantu masyarakat sekitar sini,” imbuhnya.

Saat ditanya bantuan apa yang diberikan oleh pihak pengusaha pengolahan rosokan, Soim mengatakan bantuan tersebut beupa sembako bagi warga sekitar. “Idul Adha kemarin juga memberi. Pokoknya pihak RT butuh bantuan, pasti dibantu,” terangnya.

Apakah bantuan itu sebagai bentuk kompensasi untuk warga sekitar, Soim menampik. “Itu bukan kompensasi, hanya bantuan Bu Lilik kepada warga sekitar sini saja. Sifatnya parsitipasi, jadi bukan kompensasi,” tandas RT berbadan subur ini.

Saat disinggung limbah dari pengolahan rosokan. “Limbahnya memang dialirkan di kali kecil lewat depan rumah saya, terus dialirkan ke kali barat itu, ke Dam Burengan I, tapi tidak ada baunya kok,” jelasnya.

Terpisah, Kasi Trantib Kecamatan Ngasem, Wawan Hermawan mengaku tidak mengetahui terkait perijinan pabrik pengolahan rosokan limbah tersebut. “Kita tidak tahu, itu ada izinnya apa tidak. Karena kita selama ini tidak pernah dilibatkan dalam hal perijinan, apalagi diberi tembusan. Menurut SOP (Standart Operating Prosedure), ya harusnya melalui kecamatan, kita juga cek lokasi, kenyataannya kita (Kecamatan Ngasem) tidak tahu. Semua dihandle KPPT (Kantor Pelayanan dan Perizinan Terpadu). Anda tanya langsung ke KPPT. Semua langsung dari sana,” tegas Wawan, saat ditemui di kantornya (10/10/2018).

Sementara itu, Lilik, pemilik pabrik pengolahan rosokan, belum bisa dikonfirmasi, ketika didatangi di rumahnya, sekaligus tempat usahanya yaitu pengepul barang rosokan di Jalan Letjen Suprapto Kelurahan Burengan, Kota Kediri, pihaknya tidak berada di tempat. (cahyo/urg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *